IPO, M&A, atau Buyout: Strategi Exit Terbaik untuk Startup?

 



Investasi di perusahaan startup telah menjadi fenomena global dengan banyaknya investor yang tertarik menanamkan modal di perusahaan rintisan. Kesuksesan startup yang menjadi perusahaan raksasa seperti Facebook, Uber, Airbnb, dan Tesla menginspirasi banyak investor untuk mencari "the next big thing". Disisi lain menjamur dan banyaknya modal ventura (VC) dan angel investor yang mendanai startup. Contohnya SoftBank Vision Fund berinvestasi miliaran dolar ke startup seperti WeWork, Grab, dan DoorDash. Belum lagi mudahnya akses pendanaan crowdfunding pada platform seperti AngelList, Kickstarter, dan Equity Crowdfunding memungkinkan siapa saja berinvestasi di startup tanpa perlu menjadi investor besar.

Namun, euforia ini membawa peluang sekaligus risiko besar karena fakta yang terjadi beberapa perusahaan startup tersebut ada yang sudah bangkrut. Kalau dilihat dari faktor-faktor risiko dibalik euforia startup diantaranya sebagai berikut:

Tingginya Tingkat Kegagalan Startup
Apa yang terjadi di belahan dunia tentang euforia startup bahwa 90% startup gagal, dan hanya sedikit yang benar-benar sukses. Contoh kegagalan besar: WeWork, Theranos, dan Quibi, yang sempat mendapat pendanaan besar tetapi akhirnya runtuh.

Valuasi yang Tidak Realistis (Bubble Startup)
Banyak startup dinilai terlalu tinggi berdasarkan pertumbuhan pengguna, bukan profitabilitas secara nyata. Beberapa startup dengan valuasi unicorn diatas $1 miliar akhirnya gagal bertahan di pasar.

Risiko Exit Strategy yang Sulit
Dilapangan tidak semua startup bisa mencapai IPO atau diakuisisi. Investor yang sudah terlanjur investasi di startup bisa terjebak dalam investasi tanpa ada cara untuk menjual saham mereka.

Ketergantungan pada Pendanaan Lanjutan
Banyak startup hanya bertahan karena terus mendapatkan pendanaan baru, bukan karena bisnis mereka benar-benar menguntungkan. Jika pendanaan berhenti, startup bisa langsung bangkrut.

Hype vs. Realitas dalam Inovasi
Beberapa teknologi baru misalnya Web3 dan Metaverse mendapat hype besar tetapi belum terbukti sukses dalam jangka panjang. Investor yang terlalu percaya pada tren bisa kehilangan banyak uang jika teknologi tersebut tidak berkembang sesuai harapan.

Jenis - Jenis Exit Strategi

Berbicara soal exit strategi di perusahaan startup bagaimana perolehan dan keberuntungannya? Dilapangan tidak semua startup bisa mencapai IPO atau diakuisisi. Exit strategi perusahaan di pasar saham biasanya berkaitan dengan bagaimana pemilik, investor awal, atau manajemen mengelola perusahaan dengan baik dan performa keuangan, bisnis, dan investasi. Berikut adalah beberapa strategi exit terbesar yang terjadi pada perusahaan startup maupun perusahaan besar:

Initial Public Offering (IPO) – Go Public
IPO menjadi salah satu strategi exit terbesar bagi perusahaan rintisan (startup) dan investor ventura. Perusahaan menjual sahamnya ke publik untuk mengumpulkan modal, sementara investor awal bisa menjual kepemilikan mereka secara bertahap. Contoh: Facebook (2012), Alibaba (2014), dan Airbnb (2020).

Merger dan Akuisisi (M&A)
Strategi exit ini dilakukan dengan menjual sebagian saham ke perusahaan lain. Atau dilakukan dalam bentuk merger yaitu penggabungan dengan perusahaan lain atau akuisisi yaitu dibeli oleh perusahaan lain. Contoh WhatsApp diakuisisi Facebook seharga $19 miliar pada 2014. 21st Century Fox diakuisisi Disney seharga $71,3 miliar pada tahun 2019.

Private Equity Buyout (Going Private)
Perusahaan publik dibeli oleh private equity atau group investor untuk menjadi perusahaan swasta atau perusahaan tertutup. Ini biasanya terjadi jika pemilik ingin mengendalikan perusahaan tanpa tekanan di pasar saham. Contoh Dell diambil alih oleh Michael Dell dan Silver Lake Partners seharga $24,4 miliar pada tahun 2013.

Secondary Offering (Penjualan Saham oleh Pemilik Lama)
Pemegang saham utama menjual sebagian atau seluruh kepemilikannya di pasar sekunder. Hal ini tidak selalu berarti perusahaan keluar dari bursa, tetapi pemilik awal hanya menjual kepemilikan saham mereka. Contoh Uber setelah IPO, SoftBank menjual sebagian sahamnya untuk mendapatkan likuiditas.

Liquidation (Likuidasi dan Delisting)
Jika perusahaan mengalami kesulitan finansial, bisa memilih likuidasi aset dan mengembalikan modal ke pemegang saham. Dalam kasus lain, perusahaan bisa delisting dari bursa saham, baik secara sukarela atau karena gagal memenuhi regulasi. Contoh pada perusahaan besar Lehman Brothers yang bangkrut pada 2008, Twitter diambil alih oleh Elon Musk dan delisting dari NYSE (2022).

Euforia investasi pada perusahaan startup membuka peluang bagus tetapi juga membawa risiko tinggi. Investor perlu berhati-hati dalam memilih startup yang benar-benar memiliki model bisnis yang baik, bukan sekadar mengikuti tren hype belum lagi faktor dan kondisi ekonomi global dan geopolitik dunia juga turut mempengaruhi kondisi startup tersebut berada. Untuk itulah strategi exit pada perusahaan startup tidak hanya menentukan apakah IPO, M&A, atau buyout oleh private equity tetapi juga perlu memperhatikan aspek kondisi pasar saham dunia, keamanan dan stabilitas ekonomi serta geopolitik di tempat negara statup tersebut berdiri.

****