Secara umum Greenwashing merupakan praktik yang dilakukan oleh perusahaan atau organisasi untuk memberikan kesan bahwa produk, layanan, atau operasi mereka lebih ramah lingkungan atau berkelanjutan daripada kenyataannya. Istilah ini berasal dari gabungan kata "green" atau hijau yang melambangkan ramah lingkungan dan "whitewashing" yaitu penyamaran atau penutupan sesuatu yang buruk.
Biasanya, greenwashing dilakukan melalui strategi pemasaran atau komunikasi yang menyesatkan dengan tujuan menarik konsumen yang peduli lingkungan tanpa benar-benar membuat perubahan signifikan pada praktik bisnis mereka.
Beberapa pakar dengan gamblang menjelaskan dan menerangkan tentang definisi dari arti kata greenwashing, diantaranya sebagai berikut:
Delmas dan Burbano (2011)
Greenwashing didefinisikan sebagai praktik yang dilakukan oleh perusahaan untuk menyebarkan informasi yang salah atau menyesatkan agar terlihat lebih peduli terhadap lingkungan daripada kenyataannya. Ini sering kali terjadi karena ketidakseimbangan antara komunikasi lingkungan atau promosi hijau dan tindakan lingkungan atau komitmen nyata.
Lyon dan Maxwell (2011)
Greenwashing menurut mereka diartikan sebagai upaya perusahaan untuk meningkatkan reputasi lingkungan mereka melalui klaim yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Dalam pandangan ini, greenwashing adalah bentuk manipulasi yang memanfaatkan kesadaran konsumen terhadap isu lingkungan untuk keuntungan komersial.
TerraChoice (2009)
TerraChoice, sebuah organisasi yang fokus pada keberlanjutan, menggambarkan greenwashing sebagai klaim lingkungan yang menyesatkan, baik dengan sengaja maupun tidak, tentang praktik perusahaan atau produk mereka. Mereka juga mengidentifikasi “7 Dosa Greenwashing” yang mencakup dosa klaim palsu, dosa irrelevansi, dosa tanpa bukti, dan lainnya.
Apakah suatu perusahaan benar-benar menjalankan praktik atau komitmennya dalam menjalankan usaha yang ramah lingkungan sesuai dengan apa yang dikampanyekan? Jika tidak, seharusnya tidak perlu mengklaim bahwa bidang usaha tersebut ramah lingkungan untuk menghindari masuk dalam kategori atau tuduhan sebagai greenwashing. Beberapa contoh kasus perusahaan yang pernah terjadi dalam tuduhan greenwashing yaitu sebagai berikut:
Volkswagen (Skandal Dieselgate)
Volkswagen pernah mengklaim bahwa mobil diesel mereka ramah lingkungan dengan emisi yang rendah. Namun, pada 2015, terungkap bahwa perusahaan menggunakan perangkat lunak manipulasi untuk menipu pengujian emisi. Dalam kenyataannya, mobil-mobil ini menghasilkan emisi berbahaya yang jauh lebih tinggi dari klaim mereka.
H&M (Fashion Cepat dan Greenwashing)
H&M meluncurkan kampanye "Conscious Collection" yang diklaim menggunakan bahan ramah lingkungan seperti organik atau daur ulang. Namun, banyak kritik menyebut koleksi ini sebagai taktik greenwashing karena hanya sebagian kecil dari produk mereka yang benar-benar sustainable, sementara sebagian besar lini bisnis mereka tetap berfokus pada mode cepat atau fast fashion yang tidak ramah lingkungan.
Coca-Cola (Program Daur Ulang)
Coca-Cola mempromosikan inisiatif daur ulang dan botol plastik yang 100% bisa didaur ulang. Namun, organisasi lingkungan menuduh mereka melakukan greenwashing karena Coca-Cola tetap menjadi salah satu produsen terbesar limbah plastik global, dengan banyak plastik mereka tidak benar-benar didaur ulang karena sistem pengelolaan sampah yang tidak memadai.
Greenwashing sendiri memiliki karakteristik atau ciri-ciri yang dapat terlihat dari penerapan atau prakteknya secara langsung, diantaranya sebagai berikut:
Klaim yang Tidak Berdasar
Menggunakan istilah seperti "eco-friendly" atau "sustainable" tanpa bukti yang jelas atau sertifikasi resmi.
Informasi Tidak Transparan
Perusahaan gagal menjelaskan secara rinci bagaimana produk atau kebijakan mereka benar-benar mendukung keberlanjutan.
Pengalihan Fokus
Menonjolkan satu aspek kecil yang ramah lingkungan untuk menutupi dampak negatif secara keseluruhan.
Penggunaan Simbol atau Warna Hijau
Desain kemasan, logo, atau materi promosi sering menggunakan warna hijau atau ikon alam untuk menciptakan kesan ramah lingkungan. Padahal dalam praktiknya ditemukan ketidaksesuaian.
Produk dengan Label Tidak Berdasar
Menggunakan label seperti “100% natural” atau “biodegradable” tanpa penjelasan atau sertifikasi yang mendukung klaim tersebut.
Bukan tidak mungkin bahwa hal yang berkaitan dengan greenwashing bisa berdampak negatif bagi masyarakat, jika melihat dari dampak tersebut diantaranya sebagai berikut:
Menyesatkan Konsumen
Membuat konsumen merasa telah berkontribusi pada pelestarian lingkungan padahal sebenarnya mereka mendukung praktik yang tidak berkelanjutan.
Menghambat Perubahan Nyata
Perusahaan yang melakukan greenwashing sering menghindari tanggung jawab untuk benar-benar mengurangi dampak lingkungan mereka.
Merosotnya Kepercayaan
Jika terungkap, praktik ini dapat merusak reputasi perusahaan dan menurunkan kepercayaan publik terhadap produk dan kampanye lingkungan secara umum.
Untuk menghindari greenwashing baik itu perusahaan maupun konsumen bisa melakukan beberapa tindakan diantaranya sebagai berikut:
Verifikasi Informasi. Konsumen dapat mencari sertifikasi resmi seperti Energy Star, Fair Trade, atau EU Ecolabel.
Transparansi. Perusahaan harus memberikan data dan laporan yang dapat diverifikasi tentang dampak lingkungan produk atau layanan mereka.
Evaluasi Klaim. Hindari terjebak dengan kata-kata pemasaran yang samar dengan menyampaikan fakta spesifik, misalnya: Produk ini menggunakan 50% bahan daur ulang, dibandingkan dengan “Produk ini 100% hijau.”
Standar Internasional. Menggunakan standar sertifikasi resmi, seperti ISO 14001 terhadap manajemen lingkungan atau sertifikasi oleh organisasi independen seperti Rainforest Alliance dan Fair Trade. Publikasi laporan keberlanjutan (sustainability report) yang diverifikasi oleh auditor eksternal.
Untuk memerangi greenwashing, banyak negara mulai memperketat regulasi terkait pelabelan dan pengiklanan produk ramah lingkungan. Di Uni Eropa, misalnya, ada aturan ketat dalam EU Green Deal untuk memastikan klaim keberlanjutan dapat diverifikasi dan tidak menyesatkan. Greenwashing menjadi tantangan besar di era sustainable finance, tetapi dengan meningkatnya kesadaran publik dan regulasi yang lebih kuat, praktik ini dapat ditekan.