Pernah mendengar istilah window dressing? Ya, window dressing adalah tindakan dalam memperindah suatu tampilan misalkan tampilan suatu etalase toko dengan menambahkan ornamen atau lainnya yang bertujuan untuk memperbagus tampilan. Tapi tahukah Anda dalam dunia keuangan khususnya penyampaian laporan keuangan pada suatu perusahaan terbuka menggunakan praktek window dressing. Window dressing dalam laporan keuangan adalah praktik yang dilakukan perusahaan untuk membuat bagus atau memanipulasi laporan keuangan agar terlihat lebih baik daripada keadaan sebenarnya, khususnya menjelang akhir periode pelaporan (misalnya, akhir bulan, kuartal, atau tahun). Tujuan utamanya adalah untuk memberikan kesan kinerja keuangan yang lebih sehat kepada investor, kreditor, atau pemangku kepentingan lainnya.
Untuk mengetahui tindakan apa saja yang biasanya dilakukan dalam praktek window dressing dalam laporan keuangan diantaranya sebagai berikut:
Penundaan Pengeluaran
Perusahaan menunda pencatatan biaya atau pengeluaran besar hingga periode pelaporan berikutnya untuk meningkatkan laba bersih pada periode berjalan.
Percepatan Pengakuan Pendapatan
Pendapatan yang seharusnya diakui pada periode mendatang dicatat lebih awal untuk meningkatkan angka pendapatan dalam laporan keuangan.
Manipulasi Saldo Kas
Perusahaan mungkin meminjam uang jangka pendek menjelang akhir periode untuk menunjukkan saldo kas yang lebih tinggi dan kemudian melunasinya segera setelah periode berakhir.
Menghapus atau Menjual Aset yang Tidak Menguntungkan
Aset yang berkinerja buruk dijual atau dihapuskan untuk menghilangkan pengaruh negatif terhadap laporan keuangan.
Reklasifikasi Akun
Mengubah klasifikasi akun tertentu untuk membuat rasio keuangan lebih menarik, misalnya, memindahkan kewajiban jangka pendek ke jangka panjang.
Tujuan Praktek Window Dressing
Menarik investor baru. Karena menampilkan laporan keuangan yang terlihat bagus dapat membantu menarik investasi baru.
Mempertahankan harga saham. Perusahaan mungkin mencoba menghindari penurunan harga saham dengan menampilkan kinerja yang stabil dengan begitu melakukan praktek window dressing.
Memenuhi syarat kredit. Membuat kondisi keuangan terlihat lebih baik agar memenuhi persyaratan pinjaman dari bank atau kreditor.
Memenuhi target internal atau eksternal. Manajemen mungkin memiliki insentif, seperti bonus, yang terkait dengan pencapaian angka tertentu dalam laporan keuangan.
Dampak Negatif dari Window Dressing
Menyesatkan pemangku kepentingan. Investor, kreditor, dan pemegang saham mungkin membuat keputusan berdasarkan informasi yang tidak mencerminkan realitas.
Mengurangi kepercayaan. Jika praktik ini terungkap, reputasi perusahaan dapat rusak, dan kredibilitasnya akan dipertanyakan.
Risiko hukum. Praktek window dressing yang melanggar standar akuntansi atau hukum dapat menyebabkan masalah hukum bagi perusahaan.
Masalah jangka panjang. Window dressing hanya menawarkan solusi sementara dan tidak menyelesaikan masalah mendasar dalam keuangan perusahaan.
Window dressing dalam laporan keuangan adalah praktik yang bertujuan untuk memberikan gambaran keuangan yang lebih baik daripada kenyataan, tetapi sering kali dianggap tidak etis dan berisiko. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk tetap mematuhi standar akuntansi yang berlaku dan menghindari manipulasi informasi yang dapat merugikan pihak lain.
****
Mempertahankan harga saham. Perusahaan mungkin mencoba menghindari penurunan harga saham dengan menampilkan kinerja yang stabil dengan begitu melakukan praktek window dressing.
Memenuhi syarat kredit. Membuat kondisi keuangan terlihat lebih baik agar memenuhi persyaratan pinjaman dari bank atau kreditor.
Memenuhi target internal atau eksternal. Manajemen mungkin memiliki insentif, seperti bonus, yang terkait dengan pencapaian angka tertentu dalam laporan keuangan.
Dampak Negatif dari Window Dressing
Menyesatkan pemangku kepentingan. Investor, kreditor, dan pemegang saham mungkin membuat keputusan berdasarkan informasi yang tidak mencerminkan realitas.
Mengurangi kepercayaan. Jika praktik ini terungkap, reputasi perusahaan dapat rusak, dan kredibilitasnya akan dipertanyakan.
Risiko hukum. Praktek window dressing yang melanggar standar akuntansi atau hukum dapat menyebabkan masalah hukum bagi perusahaan.
Masalah jangka panjang. Window dressing hanya menawarkan solusi sementara dan tidak menyelesaikan masalah mendasar dalam keuangan perusahaan.
Window dressing dalam laporan keuangan adalah praktik yang bertujuan untuk memberikan gambaran keuangan yang lebih baik daripada kenyataan, tetapi sering kali dianggap tidak etis dan berisiko. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk tetap mematuhi standar akuntansi yang berlaku dan menghindari manipulasi informasi yang dapat merugikan pihak lain.
****